Eksplorasi Wisata Pulau Bawean Melalui Program Literasi WriteVenture (Part 1)

Beberapa minggu lalu, sepupu saya, Ayyub Dharma atau Yubi, mengirimkan pesan singkat ke saya dan memberitahukan tentang program yang sedang dilakukan oleh bapaknya, Om Satria Dharma atau dikenal di antara keluarga kami sebagai Om Adok. Om Adok memang sudah bertahun-tahun bergerilya secara gencar ke berbagai penjuru Indonesia untuk mempromosikan gerakan literasi.  Program yang diberitahukan Yubi tidak lain tidak bukan adalah program literasi – kerjasama antara Om Adok dengan Mas Ahmad Faizin Karimi atau Mas Faizin, seorang penulis dan guru asal Gresik dan pendiri dari Sekolah Menulis Inspirasi.  Program ini dinamakan WriteVenture dan mengajak sepuluh orang gabungan penulis dan fotografer untuk menjelajahi pulau indah di utara Gresik yang menyimpan banyak potensi pariwisata yaitu Pulau Bawean. Berbekal waktu luang (yang sangat banyak), rasa penasaran, dan kaki yang gatal karena ingin jalan-jalan, akhirnya saya memutuskan untuk ikut program WriteVenture.


Menuju Bawean

 

IMG_4654
Tiket kapal menuju Bawean, untuk informasi lengkap mengenai pemesanan dan jadwal kapal dari Gresik ke Bawean dapat dilihat di tulisan ini. 

 

Akses utama (dan satu-satunya) menuju Bawean adalah Pelabuhan Gresik. Dari Pelabuhan Gresik, ada dua jenis kapal yang bisa dinaiki: kapal ekspress yang memakan waktu kurang lebih tiga jam atau kapal biasa yang bisa memakan waktu hingga delapan jam. Saya meninggalkan Jakarta di Sabtu malam menggunakan Kereta Argo Bromo Anggrek menuju Stasiun Pasar Turi Surabaya.  Dari Stasiun Pasar Turi, saya memesan GrabCar menuju Pelabuhan Gresik. Perjalanan berjalan sangat lancar, tol dari Surabaya menuju Gresik relatif sepi karena saya berangkat di Minggu pagi. Kurang lebih 30 menit, saya akhirnya sampai di Pelabuhan Gresik. Walaupun masih pagi, pelabuhan sudah sangat carut marut, ramai, dan dipenuhi oleh berbagai macam orang yang memakai bahasa daerah yang terdengar asing di telinga saya walaupun saya sangat terbiasa mendengar orang berbahasa Suroboyo-an. Ada campuran Bahasa Madura tapi ada bahasa daerah lain yang asing dan belum pernah saya dengar sebelumnya, seperti percampuran antara Bahasa Jawa dan Madura dan sesekali saya mendengar logat Bugis. Setelah sampai Bawean dan bertemu dengan pemandu yang asli Bawean barulah saya mengetahui kalau orang-orang tersebut menggunakan Bahasa Bawean – bahasa ini cukup unik karena dianggap sebagai kreolisasi Bahasa Jawa, Madura, Bugis, dan masih banyak suku lainnya karena memang Bawean itu adalah pulau para perantau.  Habis celingak celinguk mencari rombongan tidak lama kemudian saya bertemu dengan rombongan lainnya dalam grup WriteVenture. Grup ini sangat variatif walau mayoritas tetap berasal dari daerah Jawa Timur, tepatnya dari Gresik. Kami kemudian berkenalan, saya bersiap sebentar dan tidak lama masuk kapal untuk meninggalkan Pelabuhan Gresik menuju Bawean.

Saya sangat jarang naik kapal, bisa dihitung dengan jari, saya pernah naik kapal dari Pelabuhan Merak menuju Lampung dan dari Pelabuhan Ketapang menuju Pelabuhan Gilimanuk. Kapal dari Pulau Jawa ke Sumatra dan Pulau Jawa ke Bali relatif lebih besar dibandingkan kapal Bahari Ekspress yang saya naiki dari Gresik ke Bawean. Waktu perjalanan yang lebih singkat juga memungkinkan saya untuk terus-terusan berdiri di dek kapal daripada duduk diam di dalam kapal. Tapi, dek dari Bahari Ekspress sangat kecil dan dipenuhi barang beragam mulai dari berkotak-kotak makanan dan sayur mayur hingga ayam hidup… Karena dek terlalu ramai, akhirnya setelah hanya beberapa menit di dek kapal, saya kembali masuk ke dalam dan duduk di kursi berusaha tertidur di tengah kapal yang terus berguncang-guncang pelan menuju Bawean.

IMG_4655.JPG

 

Kami tiba di Bawean sekitar pukul 12:30 siang dan langsung disambut oleh matahari terik khas pulau dan bau amis laut yang menyeruak.  Rombongan penjemput pun sudah berkerumun memenuhi pelabuhan untuk menyambut keluarga mereka. Kapal memang terisi penuh oleh masyarakat Bawean yang baru pulang haji. Rombongan kami juga sudah dijemput oleh Pak Rahman Hakim, Kepala Sekolah SMK Muhammadiyah sekaligus tuan rumah yang menyediakan tempat kami menginap dan menjadi pemandu kami di Bawean. Perjalanan menuju rumah Pak Hakim di Desa Daun menghabiskan waktu sekitar 20 menit, rata-rata penduduk Bawean menggunakan sepeda motor sebagai kendaraan utama. Saking banyaknya sepeda motor dan sudah pasti tidak ada maling sepeda motor, banyak motor dibiarkan di pinggir jalan dengan kunci motor masih menempel.


Kunjungan Wisata ke Ekowisata Bakau di Desa Daun, Pulau Bawean.

Sesampainya di rumah Pak Hakim, kami beristirahat sebentar. Badan saya pegal luar biasa karena naik kereta hampir dua belas jam dan langsung naik kapal laut. Tapi, petualangan menjelajahi Bawean harus segera dimulai dan tidak berapa lama kami harus bersiap melihat kawasan konservasi Hutan Bakau Desa Daun. Perjalanan ke sana menggunakan sepeda motor dan melewati jalanan yang sangat kecil, kiri dan kanan adalah sawah yang terhampar sangat luas. Salah sedikit bisa-bisa terperosok ke sawah.

 

IMG_4658

IMG_4656
Bakau atau Mangrove dalam Bahasa Bawean disebut juga Tanjheng. Sebelum mengetahui manfaat besar dari Pohon Bakau, masyarakat Bawean sering menebangi Pohon Bakau untuk digunakan sebagai kayu bakar. Sampai akhirnya terjadi abrasi yang menghancurkan sawah terutama di area dekat pantai, barulah Pohon Bakau gencar ditanam dan dilindungi dalam area konservasi.

Untuk yang berdomisili di Jakarta pasti sudah tidak asing dengan Ekowisata Mangrove, karena di Jakarta juga ada Ekowisata Mangrove tepatnya di Pantai Indah Kapuk (PIK). Dibandingkan Ekowisata Mangrove di PIK yang sudah sangat komersil, masih banyak hal yang harus ditingkatkan di Ekowisata Mangrove Pulau Bawean. Salah satu yang paling utama adalah akses menuju tempat ini. Ekowisata Mangrove Pulau Bawean agak mustahil ditempuh tanpa pemandu asli Bawean yang terbiasa menggunakan motor di jalur yang cukup menegangkan. Selain itu, jembatan di tempat ini dan beberapa fasilitasnya masih dibuat dengan sangat seadanya. Mengutip dari tulisan di Triptrus.com, “Masyarakat Bawean yang sudah merasa makmur karena kiriman uang dari TKI asal Bawean  masih belum berorientasi  pada  upaya melayani  tamu/wisatawan secara profesional. Masyarakat Bawean pada umumnya belum  “touristic oriented”. Hal ini memang benar adanya, di tulisan selanjutnya saya akan membahas beberapa tempat wisata yang saya kunjungi selama di Bawean dan banyaknya potensi yang bisa diolah dari segi pariwisata di tempat ini.

 

Published by I Gusti Ayu Azarine Kyla Arinta

I Gusti Ayu Azarine Kyla Arinta or Rinta was born in Balikpapan, East Kalimantan, Indonesia in 1992 to a Balinese father and a Bugisnese mother. A self-proclaimed geek and coffee-enthusiast, I Gusti Ayu Azarine Kyla Arinta works professionally as social media and content marketer while cultivating her interest and endless passion for literature, arts, coffee, and the use of technology for greater good.

Join the Conversation

1 Comment

  1. Selamat datang dan menikmati Pulau Bawean yang Menawan.

    Kita agendakan ke Bawean lagi yaa…

Leave a comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: