India: 7 Hari Untuk Selamanya

Setelah lama absen jalan-jalan dengan Mamak akhirnya saya berkesempatan lagi untuk ikutan open trip kesukaan beliau. Kali ini tujuannya adalah negara yang sama sekali tidak pernah menjadi traveling bucket list saya: India. Ada banyak alasan kenapa saya tidak berminat mengunjungi India; mulai dari berbagai tulisan tentang pengalaman yang ‘aneh aneh’ di India sampai dengan alasan keselamatan sekaligus cerita cerita dari kerabat yang pernah mengunjungi India. Kakak pertama saya pernah mengunjungi India beberapa tahun lalu dan dia bersumpah tidak akan pernah menginjakkan kakinya lagi di India. Saat itu saya berpikir mungkin karena kakak saya memang orang yang sangat pemilih dan memiliki tingkat higienitas tinggi kalau dibandingkan saya. Wajar saja dia tidak suka India dan bersumpah tidak ingin datang lagi. Tapi ternyata, bahkan bagi saya yang mengkategorikan diri sebagai pelancong yang tidak terlalu rewel, India adalah mimpi buruk. Hal terbaik dari setiap perjalanan memang bukan deretan foto-foto manis di tempat-tempat terkenal di seluruh dunia, tapi, pelajaran yang bisa diambil dan dibawa pulang untuk kemudian diingat di sela hari-hari suntuk di Jakarta. Kali ini, saya belajar tentang rasa bersyukur dan untuk pertama kalinya jalan jalan ke luar negeri malah membuat saya bersyukur karena besar dan tinggal di Jakarta, Indonesia.

“India is not, as people keep calling it, an underdeveloped country, but rather, in the context of its history and cultural heritage, a highly developed one in an advanced state of decay.”
― Shashi Tharoor


Hari Pertama |Kuala Lumpur > New Delhi

DSCF1121 copy

Setelah perjalanan selama kurang lebih 6 jam dari Kuala Lumpur International Airport ke Indira Gandhi International Airport di New Delhi, rombongan kami yang berjumlah 19 orang akhirnya sampai sekitar pukul 11 malam. Kesan pertama saya sebenarnya cukup baik karena Indira Gandhi International Airport sangat bagus, dipenuhi dengan pernak pernik khas India yang membuat pelancong mancanegara berdecak kagum. Namun, begitu saya menginjakkan kaki di luar bandara untuk menuju parkiran bus, saya cukup kaget mengetahui bahwa polusi di Delhi bahkan lebih parah daripada Jakarta. Langit malam Delhi yang berwarna oranye keabuan adalah tanda polusi yang akut dan gampang saya kenali karena sudah menjadi makanan sehari hari saya di Jakarta. Tapi, yang membedakan adalah debu yang berterbangan di udara, sesuatu yang tidak terlalu parah terlihat di Jakarta tapi terlihat cukup jelas di udara Delhi karena memang Delhi lebih gersang dan dipenuhi ruang kosong berpasir dan tandus. Beruntungnya, saya datang di awal bulan Maret di mana udara Delhi masih cukup sejuk, sekitar 21′ C di malam hari. Di perjalanan menuju parkiran, saya melihat banyak anjing liar berkeliaran di sekitar parkiran dan pintu masuk yang sepertinya punya hobi (atau mereka sedang olahraga?) mengejar setiap kendaraan yang masuk. Pemandangan ini membuat saya ketawa ketawa sendiri dalam hati karena sekalipun saya tidak pernah melihat bandara yang ada anjing berkeliaran dengan santainya sekalipun di area parkiran.

Setelah menunggu kurang lebih sejam akhirnya bus kami meninggalkan area bandara menuju penginapan. Lagi lagi India memberikan kejutan bagi saya dengan cara menyetir penghuninya yang luar biasa ugal-ugalan. Saya saja sebagai pengendara yang sudah sangat ugal-ugalan merasa cara menyetir saya sangat aman dibandingkan kendaraan-kendaraan di sini. Orang-orang di India ini juga tampaknya sangat suka mengobrol di telepon, mungkin karena pulsa murah dan atau gratis, atau karena mereka memang suka mengobrol saja. Supir bus saya pun dengan santainya menelpon sambil menyetir, dan ketika dia selesai menelpon dia kehilangan kendali akan setirnya dan DUAR!!! ditabraklah sama dia trotoar di pinggir jalan yang diam diam saja. Berhubung isi rombongan saya kebanyakan mamak-mamak, langsung hebohlah itu satu bus. Saya agak deg-degan sedikit, karena konyol kalau saya harus kecelakaan di hari pertama saya baru sampai, bahkan Taj Mahal saja saya belum lihat.

Perjalanan menuju hotel yang berliku akhirnya berakhir setelah 30 menit. Kesan pertama saya akan Delhi adalah kota ini luar biasa kotor. Jakarta yang amburadul itu terlihat lebih keren sesaat kalau dibandingkan ketidakteraturan yang saya lihat di Delhi. Motor berseliweran tanpa helm, kadang kadang bonceng tiga, dan ini bukan di jalan jalan kecil ya, tapi di jalan cukup besar dan kadang di jalan protokol. Saya juga langsung menyadari bahwa para pengendara di sini sangat suka memakai klakson mereka. Klakson tidak cukup sekali, tapi harus terus menerus dan sekalipun kamu jalan di pinggir, kamu akan tetap diklakson, entah apa juntrungannya. Baru sebentar saja saya sudah jengkel luar biasa sama kota ini, saya kira Jakarta sudah berisik, ternyata ada yang lebih berisik dan menjengkelkan. Harusnya saya mengikuti saran salah satu tulisan perjalanan ke India yang menyarankan untuk menyiapkan earbud atau earphone kedap suara bagi yang sensitif terhadap bunyi-bunyian. Sesampainya di hotel yang juga mengenaskan karena lantainya berdebu dan sepertinya tidak pernah dipel berbulan-bulan saya langsung tertidur lelap karena keesokan harinya kami akan menuju ke Vrindavan untuk Holi Festival.


Hari Kedua | Vrindavan > Agra

Vrindavan 1

Salah satu agenda dari tur yang saya ikuti ini adalah Festival Holi atau dikenal juga sebagai “Festival of Colors”, sebuah festival Hindu yang dirayakan di awal musim semi di India, Nepal, Bangladesh dan negara-negara yang memiliki jumlah diaspora India besar seperti Malaysia, Inggris, Amerika Serikat, Kanada, Afrika Selatan dan lain lain. Festival ini merupakan perayaan akan datangnya musim semi, hasil panen yang baik, dan juga perayaan atas kemenangan kebaikan terhadap kejahatan. Banyak cerita yang melatarbelakangi perayaan ini, salah satu yang paling terkenal adalah cerita tentang Krishna atau Sri Kresna dengan Radha, kekasihnya. Untuk yang familiar dengan cerita Mahabharata dan atau tumbuh besar di keluarga Hindu dan atau bahkan yang setengah Bali seperti saya pasti tau siapa Sri Kresna, dia adalah titisan dari Dewa Wisnu yang terlahir dengan kulit berwarna biru gelap. Sri Kresna menyukai Radha yang berkulit cerah dan merasa putus asa dan takut apabila Radha tidak menyukainya karena kulitnya yang gelap. Ibu dari Sri Kresna pun akhirnya memberitahukan Sri Kresna untuk mewarnai kulit Radha dengan warna apapun yang dia suka dan kemudian mereka menjadi sepasang kekasih yang menandai Festival Holi sebagai festival cinta. Seperti Lebaran, Festival Holi juga merupakan ajang untuk saling bermaaf-maafan, melupakan permusuhan yang pernah ada, dan bahkan melupakan hutang orang kepada kita.

Rupanya, mimpi buruk saya di India masih juga belum berakhir. Festival Holi adalah mimpi buruk bagi perempuan dan saya sangat tidak menyarankan pelancong perempuan untuk datang tanpa setidaknya satu kerabat laki laki yang bisa melindungi dari incaran gerombolan laki-laki India yang curi curi kesempatan saat menempelkan bubuk warna. Festival Holi terutama di tempat seperti Vrindavan dan Mathura yang menjadi pusatnya adalah salah satu tempat paling tidak aman bagi perempuan. Mimpi buruk ini menjadi ekstra buat saya yang sangat tidak suka dengan keramaian dan tempat yang berisik. Setelah berjalan kurang dari 1 km melalui kerumunan orang yang sangat banyak dan harus berhenti setiap beberapa langkah sekali karena selalu dimintai selfie bersama, akhirnya rombongan kami memutuskan untuk kembali ke bis dan bersiap ke Agra.


Catatan:

  1. Perjalanan dari Delhi ke Vrindavan berjarak tempuh tiga jam dan melalui Taj Express Highway/Yamuna Express Way. Sementara itu, dari Vrindavan menuju Agra di mana Taj Mahal berada memakan waktu kurang lebih satu jam 30 menit. Ada dua cara untuk menuju Agra dari Delhi, yang pertama adalah menyewa mobil dengan supir atau menggunakan kereta api (kurang lebih dua sampai tiga jam perjalanan). Harga tiket kereta sekitar 500 Rupee (Rp 110,000 dengan kurs 1 Rupee = Rp 220). Cek harga tiket kereta dan pemesanan di sini: https://www.90di.com/trains/DELHI/AGRA/

  2. Bagi yang akan mengunjungi Holi Festival (Maret/Akhir Februari) dan berniatan untuk foto-foto, jangan lupa bawa kantong plastik transparan untuk melindungi kamera dan atau handphone dari bubuk warna yang dilempar ketika Holi karena kadang-kadang bubuk warna dicampur dengan air. Selain itu, bubuk warna ini juga memiliki tekstur yang mirip seperti abu vulkanik (bingung mau komparasi dengan apa karena kalau debu aja nggak akan bikin lensa lecet) yang bisa membuat lensa kamera lecet dan juga meninggalkan bekas warna yang tidak bisa hilang di badan kamera (happened to me, what a fool).


Hari Ketiga | Agra – Taj Mahal & Red Fort of Agra

Agra yang terletak di daerah Uttar Pradesh, India Utara ini memang menjadi salah satu destinasi wajib bagi turis, karena, di sinilah letak Taj Mahal berada. Kota ini dijuluki sebagai The City of Taj. Tapi, Taj Mahal bukan satu-satunya hal yang harus dikunjungi selama berada di Agra. Selain Taj Mahal, ada juga Red Fort of Agra yang ikonik dan Fatehpur Sikri yang juga merupakan bangunan peninggalan dinasti Mughal dan ketiga bangunan ini merupakan bangunan yang dilindungi sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO.

Pagi-pagi sekali saya dibangunkan untuk siap-siap ke Taj Mahal. Jam buka Taj Mahal tidak ditentukan oleh waktu yang saklek melainkan buka mengikuti waktu matahari terbit dan tutup ketika matahari terbenam. Rombongan kami memutuskan datang pagi-pagi untuk menghindari panasnya India yang cukup menusuk di siang hari. Perjalanan dari hotel menuju Taj Mahal tidak terlalu lama dan saya yang duduk di sebelah jendela bisa dengan puas menikmati sudut-sudut kota Agra yang jujur saja cukup mengenaskan untuk kota yang memiliki tiga Situs Warisan Dunia di areanya. Selain jejeran hotel mulai dari yang mewah hingga hostel untuk backpacker, tidak ada tanda-tanda perkembangan lain yang menandai bahwa Agra adalah kota wisata dan rumah dari tiga Situs Warisan Dunia yang salah satunya adalah bagian dari 7 Keajaiban Dunia Baru. Sama seperti Delhi, kesan yang saya dapatkan dari Agra adalah kota ini usang dan tidak terurus dengan sampah di mana mana dan anjing liar berkeliaran ditambah orang-orang yang berkerumun di pinggir jalan entah mengerjakan apa selain berdiri-berdiri melihati turis-turis dalam bis dengan penasaran.

Bis yang kami tumpangi berhenti di depan pintu gerbang yang menuju gerbang barat Taj Mahal. Ada dua gerbang untuk masuk Taj Mahal: gerbang barat dan gerbang timur. Dari tempat bis menurunkan rombongan, kami berjalan kaki sekitar 10 menit untuk mencapai tempat penjualan tiket. Ada banyak supir tuk-tuk yang menawarkan tumpangan sampai dengan titik terakhir dekat tempat penjualan tiket, harganya? 50 Rupee atau Rp 11,000 per orang. Karena masih pagi dan kami masih semangat, kami memutuskan untuk jalan kaki. Kali ini kami didampingi guide resmi dari Kementerian Pariwisata India, sepertinya ini adalah satu keharusan apabila mengunjungi Taj Mahal dalam rombongan tur pariwisata. Guide kami yang perlente lengkap dengan sepatu oxford ala British menjelaskan kepada kami bahwa tuk tuk dan semua kendaraan bermotor lainnya sudah dilarang masuk ke area dalam Taj Mahal karena ternyata polusi mempengaruhi warna dari Taj Mahal. Taj Mahal yang terbuat dari batu pualam yang putih bersih dan diibaratkan oleh Rabindranath Tagore sebagai “A teardrop on the cheek of time” itu kini berubah warna menjadi kuning kecoklatan akibat polusi kronis di Agra. Restorasi dan usaha perlindungan untuk Taj Mahal sekarang tengah menjadi fokus dan salah satu langkah yang diambil adalah melarang kendaraan bermotor untuk masuk ke area dalam dari Taj Mahal.

Agra 1

“You know Shah Jahan, life and youth, wealth and glory, they all drift away in the current of time. You strove, therefore, to perpetuate only the sorrow of your heart? Let the splendor of diamond, pearl and ruby vanish? Only let this one teardrop, this Taj Mahal, glisten spotlessly bright on the cheek of time, forever and ever.”

Sebelum memasuki area Taj Mahal, guide kami membelikan tiket terlebih dahulu untuk rombonga. Harga tiket untuk turis asing adalah 1000 Rupee (Rp 220,000), sekitar sepuluh kali lipat dari harga untuk turis lokal, selain itu, ada harga khusus juga untuk turis dari negara-negara seperti Nepal, Bhutan, Bangladesh, Pakistan dan negara-negara lain di Asia Selatan. Antrian untuk turis asing dan warga negara India dipisahkan. Antrian untuk warga negara India mengular sangat panjang, mungkin bisa lebih dari 2 kilometer antriannya. Sementara itu antrian untuk turis asing cukup pendek dan antrian untuk perempuan dan laki-laki juga dipisah oleh teralis besi. Setelah sedikit mengantri dan memindai barang di alat pemindai yang sepertinya hanya formalitas (karena saya bawa lighter dua dan seharusnya tidak boleh tapi tidak dihiraukan), kami berkumpul di titik tengah pertemuan gerbang barat dan timur. Guide perlente kami yang asli Agra tersebut kemudian menceritakan mengenai Taj Mahal yang ia sebut sebagai Monument of Love, bukti cinta seorang Raja, Shah Jahan,  terhadap istri kesayangannya Mumtaz Mahal, yang meninggal setelah melahirkan anak ke-14 dari Shah Jahan. Monument of Love mungkin memang kata-kata yang tepat untuk menggambarkan Taj Mahal, monumen yang berdiri megah di pinggir Sungai Yamuna ini benar-benar dibangun secara detail sesuai dengan perintah Raja Shah Jahan. Setiap sudutnya dipenuhi ornamen-ornamen yang dibuat secara handmade dan mengerahkan arsitek-arsitek terbaik dari Dinasti Mughal. Diperkirakan sekitar 20,000 pekerja membangun Taj Mahal dan setelah satu dekade, Taj Mahal akhirnya selesai dibangun. Taj Mahal menyambut  setiap pengunjungnya dengan sebuah gerbang bertuliskan surat Al Quran yang ditulis tangan dan kemudian dicairi batu marmer hitam untuk membuat tulisan ini kontras dengan gerbang yang berwarna putih bersih. Dari sela-sela gerbang ini saya bisa melihat Taj Mahal, berdiri kokoh di kejauhan, warna putihnya mulai memudar namun dalam kondisi tidak terbaiknya pun Taj Mahal tetap terlihat memukau. Di tengah terik matahari Agra, Taj Mahal benar-benar berpendar indah dan sesaat saya merasakan rasa haru yang aneh karena saya tidak tahu apakah Taj Mahal dibangun secara tulus untuk Mumtaz Mahal ataukah ini juga untuk mengabadikan kehebatan sang raja sendiri? Sebagai tanda bahwa ia adalah suami yang sangat penuh kasih meskipun fakta sejarah banyak mendebatkan mengenai ketulusan Shah Jahan dan seringkali membahas perilaku bengisnya terhadap musuh-musuhnya dalam usahanya memperluas dinasti Mughal.

Agra 2.jpg

Sebelum memasuki bagian dalam dari Taj Mahal, pengunjung diharuskan melapisi sepatunya dengan kain putih yang diberikan ketika membeli tiket, ini untuk menghindari rusaknya lantai marmer Taj Mahal. Makam Mumtaz Mahal dan Raja Shah Jahan sendiri sebenarnya sangat sederhana dan bahkan area makam yang dilihat oleh pengunjung ketika memasuki bagian dalam Taj Mahal bukanlah makam sebenarnya karena sesuai dengan ajaran Islam yang dianut oleh Dinasti Mughal, makam dari seseorang tidak boleh dihias secara berlebihan. Makam sebenarnya dari Mumtaz Mahal dan Raja Shah Jahan terletak satu lantai di bawah makam yang dilihat oleh pengunjung, di sebuah ruang sunyi yang tidak dapat dikunjungi. Di sanalah sang raja akhirnya beristirahat selamanya berdampingan dengan Mumtaz Mahal, jauh dari riuh surga kecil yang ia buat di dunia dan dikunjungi oleh 8 juta orang setiap tahunnya.

Catatan:

  1. Sebagaimana di Monas dan Candi Borobudur dan tempat-tempat turis lainnya, akan banyak fotografer keliling yang berusaha menawarkan jasa foto. Abang-abang foto dan pedagang di India ini jauh lebih gigih dari tempat lain dan tidak akan menyerah dengan kata-kata “no”, seribu kali pun kamu bilang “no” juga akan tetap diikuti, jadi kalau memang tidak berminat bilang “no” sambil ngeloyor pergi atau cuekin. Kalau tertarik pun sebenarnya harganya juga tidak mahal-mahal amat, 100 Rupee (Rp 10,000) per foto tapi kemudian mereka akan mengambil 10 – 15 foto dan memintamu untuk bayar 1000 – 1500 Rupee. Harus tegas dalam tawar menawar. Berhubung saya anggota anti nawar nawar club, senjata andalan saya adalah bilang “no” dan ngeloyor pergi menghilang dalam keramaian.


Red Fort of Agra

Agra 3.jpg

Karena ternyata waktu masih mencukupi untuk mengunjungi satu tempat lagi sebelum kami bertolak ke Delhi, akhirnya kami berkesempatan untuk mendatangi Red Fort of Agra atau Agra Fort. Benteng mentereng yang berwarna merah ini dulunya merupakan tempat tinggal dari raja-raja Dinasti Mughal sampai dengan tahun 1638 ketika ibu kota kerajaan dipindah dari Agra ke Delhi. Benteng seluas 94 hektar ini memiliki perlindungan yang sangat kokoh karena juga digunakan sebagai tempat perlindungan keluarga kerajaan ketika terjadi penyerangan. Ada dua pintu masuk ke benteng ini, yang pertama adalah Delhi Gate di utara dan Amar Singh Gate di barat. Pengunjung hanya bisa memasuki benteng melalui Amar Singh karena hingga saat ini bagian utara dari benteng masih secara aktif digunakan oleh angkatan militer India. Walaupun dari luar benteng ini berwarna merah, namun, bagian dalam dari benteng seperti yang ada sekarang kebanyakan berwarna putih dan dibangun oleh Shah Jahan yang lebih menyukai batu marmer putih. Sementara, ayahnya, Raja Akbar, yang pertama kali membangun benteng ini cenderung lebih sering menggunakan batu berwarna merah. Yang menarik dari benteng ini adalah fakta bahwa kemudian benteng ini dikabarkan menjadi peristirahatan terakhir dari Shah Jahan yang dipenjarakan di sini oleh anaknya, Aurangzeb (ironisnya Aurangzeb adalah anak Shah Jahan dari Mumtaz Mahal). Shah Jahan dirumorkan meninggal di Muasamman Burj, menara bermarmer putih dengan pemandangan Taj Mahal dari kejauhan.


Hari Keempat | Delhi > Srinagar

Di hari ketiga setelah melihat Taj Mahal dan Agra Fort, rombongan kembali ke Delhi untuk kemudian pergi ke Srinagar, ibu kota musim panas Provinsi Jammu & Kashmir di hari keempat. Perjalanan dari Delhi ke Srinagar ditempuh dengan pesawat udara, ada banyak opsi pesawat udara dari Delhi ke Srinagar: budget airline IndiGo, Vistara, dan atau Air India yang setara dengan Garuda. Kebanyakan harga tiket pesawat tidak jauh berbeda, Rp 1,300,000 – Rp 1,500,000 untuk tiket pulang pergi. Perjalanan dari Delhi ke Srinagar memakan waktu kurang lebih satu jam 30 menit.

Kashmir 1

Pegunungan Himalaya yang diselimuti salju abadi terlihat di rute penerbangan dari Delhi menuju Srinagar.

Memasuki wilayah Kashmir seperti memasuki negara yang benar-benar berbeda dari India. Selain perbedaan cuaca yang cukup signifikan (Kashmir memiliki empat musim dan cenderung lebih sejuk dibandingkan wilayah lain di India, ketika saya berada di sana, suhu mencapai 9’C di siang hari dan bisa turun hingga 1 – 5’C di malam hari), perbedaan yang terlihat juga adalah bahasa dan orang-orang yang Kashmir yang lebih mirip dengan orang timur tengah dibandingkan orang India. Bahasa sehari-hari yang digunakan oleh orang Kashmir bukanlah Bahasa Hindi, Urdu, atau Bengali, melainkan Bahasa Kashmiri yang merupakan percampuran Bahasa Urdu dan Parsi dan beberapa kosa kata Bahasa Arab. Srinagar sendiri terletak di Lembah Kashmir di tepi sungai Jhelum, anak sungai dari Sungai Indus dan kemudian bermuara di danau Dal atau Dal Lake (sebuah pengulangan kata karena sebenarnya Dal adalah Bahasa Kashmir dari Danau).

Sebelumnya saya sudah diberitahu oleh tante dan sepupu saya yang berangkat duluan ke Kashmir bahwa Kashmir dipenuhi oleh militer dan polisi yang siap siaga dengan senapan otomatis, ini dikarenakan Kashmir adalah daerah konflik. Kashmir yang berpenduduk mayoritas Islam rentan dengan gerakan separatis yang berusaha melepaskan diri dari pemerintahan India yang mayoritas Hindu. Gerakan separatis di Kashmir digerakkan oleh gerakan Islam militan dan sudah beberapa kali memakan korban jiwa di bentrokan antara angkatan militer India dengan gerakan separatis dan penduduk Kashmir sendiri. Selain itu, karena akses internet dan komunikasi yang dibatasi, praktis semua sim card prabayar yang dibeli sekalipun di India tidak bisa digunakan di Kashmir. Hanya sim card pascabayar yang dimiliki oleh penduduk Kashmir yang bisa digunakan di sini. Tapi, untuk mengakomodasi pengunjung luar, biasanya penginapan atau tour guide di Kashmir akan meminjamkan modem portable. 

Kashmir 3

Karena kondisinya sebagai daerah konflik, sepanjang perjalanan dari airport menuju penginapan di Dal Lake banyak sekali angkatan militer yang berjaga-jaga dan juga military check point. Namun, entah kenapa saya malah merasa tempat ini lebih aman dari Delhi sekalipun. Di Srinagar, saya masih bisa melihat perempuan berjalan dengan santainya, hal yang jarang saya lihat di Delhi – entah kenapa saya jarang lihat perempuan jalan sendirian atau bahkan berdua, bertiga, berombongan dengan teman-temannya di jalanan Delhi atau Agra, sementara hal itu bisa saya lihat di Srinagar yang berarti perempuan-perempuan ini merasa cukup aman berjalan tanpa harus ditemani teman atau saudara laki-laki.

Kashmir 4

Shikara, perahu kayu yang banyak digunakan di Dal Lake dan perairan lain di Jammu & Kashmir. Selain untuk transportasi turis, Shikara juga digunakan oleh pedagang pedagang yang dengan sangat gigih menjual berbagai macam barang mulai dari pashmina, herbal, teh, sampai dengan chicken tikka masala! 

Tempat penginapan kami di Srinagar cukup unik, houseboat, atau rumah perahu yang berjejer rapi di Dal Lake, penginapan khas Srinagar. Untuk menuju houseboat kami menggunakan shikara atau kapal kayu yang juga khas Kashmir dan didekorasi sedemikian rupa dengan sofa-sofa yang dilapisi kain bermotif ramai dengan tujuan membuat turis merasa nyaman. Di setiap houseboat sendiri ada tiga kamar, masing-masing dengan kamar mandi, dan yang paling unik adalah houseboy atau pelayan masing-masing rumah yang akan mengurusi semua kebutuhan pengunjung selama menginap di houseboat. Houseboy kami yang tidak bisa lagi disebut ‘boy’ sebenarnya bernama Mansyur. Kami sekeluarga beruntung karena Mansyur benar-benar akomodatif, dia bahkan tidak memperbolehkan saya masak air panas sendiri untuk membuat kopi! Dengan cengar cengir dan broken English dia akan berkata,“Please sit, no worries, this is your home.” Perkataan ini akan kami dengar selama tiga hari kami menginap di sana setiap kami berusaha melakukan hal seremeh temeh bersihin kursi di meja makan setelah makan.

Setelah berberes sebentar, saya sekeluarga bersama dengan Mamak dan tante-tante dan juga rombongan lain akhirnya naik Shikara keliling Dal Lake (satu Shikara muat empat sampai enam orang). Saya sudah sangat semangat karena secantik-cantiknya Taj Mahal, Taj Mahal masih buatan manusia dan tidak ada apa-apanya dibandingkan kecantikan alam Kashmir yang buatan Tuhan langsung. Dal Lake benar-benar danau yang menakjubkan, danau ini memang tidak terlalu luas, tapi peradaban manusia berpusat di sekelilingnya dan sembari menikmati sore di Dal Lake, saya disuguhi pemandangan Lembah Kashmir dan Pegunungan Himalaya yang terlihat sangat anggun dari kejauhan. Sayangnya, ternyata saya memang benar-benar tidak bisa diliputi ketenangan sedikitpun selama perjalanan ini dan tidak semenit pun dibiarkan untuk berkontemplasi. Baru beberapa menit kami meninggalkan houseboat dengan Shikara, pedagang-pedagang langsung berkerumun, mengikuti Shikara kami sambil menjajakan berbagai macam hal. Saya kemudian memutuskan membeli teh Kashmir atau Kahwah panas seharga 10 Rupee karena saya sudah mulai menggigil kedinginan meskipun sudah memakai heat tech rangkap dua, mantel, dan syal (Ini kualat karena  meremehkan dinginnya Kashmir, saya bahkan bilang sama sepupu saya yang sudah ke sini sebelumnya: ‘Paling dingin-dingin Bandung gitu kan?’).

Kashmir 5

Bapak penjual dengan lihai menjajakan Kahwah panas di atas perahu. Kahwah adalah teh hijau tradisional yang biasanya dikonsumsi di Afghanistan, Pakistan Utara, dan terutama di Lembah Kashmir. Teh hijau ini biasanya diseduh dengan safron (yang ternyata adalah rempah termahal di dunia padahal di Kashmir dijual bagaikan kacang), kulit kayu manis, dan kapulaga lalu ditambah dengan kacang-kacangan, biasanya kacang almond atau kenari. 

Seperti dugaan saya, Shikara kami berhenti di salah satu toko yang sudah pasti toko titipan di mana kalau ada rombongan yang beli di sana, pengayuh Shikara ini akan dapat komisi. Lagi-lagi saya terpaksa bengong di pinggir danau karena sama sekali tidak berminat untuk belanja. Dari semua hal yang dijual di India, tidak ada satupun yang membuat saya tertarik, terutama karena motif dan warnanya yang kadang kadang membuat saya bergidik. Ujung-ujungnya saya cuma beli tiga buku, satu cincin, dan satu pashmina hitam polos (satu-satunya yang polos dan berwarna hitam dari setumpukan pashmina bermotif mengerikan – bunga bunga, ala-ala tribal, dan lain lain). Sebelum kembali ke houseboat, Shikara berhenti sekali lagi di toko yang menjual mantel-mantel musim dingin. Saya sempat tertarik untuk membeli satu mantel, apalagi harganya sangat murah (bayangkan, tante saya membeli trench coat kulit yang saya yakin kalau di toko retail harganya bisa satu juta lebih di sini dijual hanya 2000 Rupee atau Rp 440,000!). Sayangnya, ketika saya tanya apakah mantel incaran saya anti air, bukan maksudnya untuk air hujan juga sih tapi lebih tepatnya kalau kena salju apakah dia akan menyerap basah atau tidak, dan ternyata mantelnya tidak tahan salju sehingga saya memutuskan tidak jadi membeli karena sekalipun murah buat apa kalau tidak fungsional. Menjelang Maghrib, kami pun akhirnya sampai lagi di houseboat. Listrik di Kashmir ini dibatasi oleh pemerintah dan yang menyedihkan, pemanas ruangan hanya ada di ruang tamu dan menggunakan kayu bakar, bukan pemanas elektrik. Sekalipun selimut pemanas disediakan di tiap kamar tapi kami juga tidak bisa leyeh-leyeh di kamar hingga listrik dihidupkan sepenuhnya dan berkerumunlah kami di ruang tamu di mana lagi-lagi saya terpantik kekesalannya karena pedagang hilir mudik masuk ruang tamu dan terus-terusan berjualan. Akhirnya saya memutuskan untuk ngendon di kamar mandi sampai makan malam disediakan dan kemudian langsung nyelonong masuk kamar lagi begitu melihat masih ada penjual di ruang tamu setelah selesai makan malam.

Catatan:

  1. Perahu kayu dari houseboat ke daratan di seberang (yang hanya bisa ditempuh melalui perahu kayu) sebenarnya gratis dan disediakan oleh houseboat, tapi, setiap saat si pengayuh perahu kayu akan selalu meminta tips, biasanya satu orang 50 Rupee atau 200 Rupee satu perahu.

  2. Lagi-lagi akan ada pedagang yang gigih dan tidak mengenal kata tidak. Keadaan yang dilematis untuk saya yang tidak enakan jadi orang, saya tidak berminat membeli tapi saya tahu mereka begitu gigih berjualan karena tingginya tingkat pengangguran di Kashmir dan betapa susahnya hidup di sana. Ketika musim dingin, otomatis semua kegiatan agraris terhenti dan mereka sangat bergantung terhadap turis. Tapi, di saat yang bersamaan, pedagang-pedagang gigih ini sangat agresif dan mengesalkan terutama untuk saya yang selain tidak suka belanja karena merasa proses tawar-menawar itu sangat awkward, saya juga paling antipati dengan sangat  pedagang yang memaksaHal-hal seperti ini bisa membuat saya sangat enggan untuk berkunjung ke suatu tempat karena saya paling malas harus berurusan dengan menghindari orang ketika saya hanya ingin duduk atau berdiri tenang menikmati pemandangan dan keadaan. Bayangkan saja saya harus dikerubuti begitu banyak pedagang sampai terpaksa harus masuk bis padahal saya masih mau duduk duduk di pinggir danau. Dan, pedagang ini akan mengetok-ngetok pintu bis bahkan masuk ke dalam bis untuk menawarkan dagangannya. Siasat saya kali ini karena tidak bisa ngeloyor adalah pasang earphone  dan kacamata hitam dan pura pura tidak mendengar dan melihat apapun sampai akhirnya mereka capek dan kesal sendiri karena tidak saya tanggapi.



Hari Kelima, Keenam, dan Ketujuh | Srinagar – Sonamarg, Gulmarg, dan Pahalgam.

Sonamarg

 

IMG_2482 copy

Sungai Sind di Sonamarg.

 

Karena tulisan ini sudah terlalu panjang, saya akan merapel pengalaman datang ke tiga tempat ini. Tiga tempat yang sudah jadi destinasi wajib kalau datang ke Srinagar. Tempat pertama yang saya kunjungi adalah Sonamarg, bukan kesan pertama yang terlalu baik karena begitu saya datang langsung ada serombongan orang yang menawarkan jasa mulai dari foto, sledboard, sampai ski ala-ala. Lagi-lagi karena mereka memaksa, saya langsung menghindar dan duduk di satu tempat dan diam di sana sampai pulang karena saya sudah terlalu kesal. Pemandangan alam Sonamarg yang cukup indah langsung menjadi tidak mengesankan lagi buat saya dan dalam hati saya sudah langsung mencoret habis-habisan Sonamarg dari daftar tempat yang akan saya kunjungi. Dibandingkan dengan Gulmarg dan Pahalgam, Sonamarg memang tempat yang paling tidak terurus dan sebenarnya tidak terlalu banyak yang bisa dilihat di sini selain tumpukan salju datar dan Sungai Sindh yang mengalir di sisi jalan menuju Sonamarg. Dari titik poin masuk Sonamarg menuju hill station-nya kami harus turun dari bis karena jalanan yang curam dan sempit dan tidak bisa dilalui oleh bis. Kami harus menggunakan mobil off-road atau naik kuda. Untuk mobil off-road dikenai biaya 2000 Rupee per mobil dan satu mobil biasanya diisi oleh enam orang.

Gulmarg

IMG_2520 copy

Gondola dari Kongdoori menuju Puncak Apharwat

Gulmarg sedikit mengobati kekesalan saya di Sonamarg. Walaupun masih ada pedagang-pedagang pemaksa dan tipuan-tipuan khas untuk turis tapi pemandangan alam Gulmarg cukup mengalahkan semua kekesalan saya di hari sebelumnya. Salah satu tourist scam yang paling sering adalah anda akan ditawari untuk naik sledboard menuju stasiun gondola Gulmarg dengan harga 150 Rupee satu orang dengan alasan stasiun gondola-nya terletak jauh dari parkiran. Keterangan jarak kilometer antara parkiran dan stasiun gondola dirobek dengan semena-mena untuk memberikan ilusi bahwa jalan yang ditempuh cukup jauh. Kenyataannya, jalan kaki ke sana memakan waktu tidak sampai 10 menit dan sledboard juga tidak bisa mengantar sampai dengan stasiun gondola, masih harus jalan beberapa menit lagi. Saya bahkan sampai lebih dulu dibandingkan yang naik sledboard. Kalau mau diambil positifnya, ini bisa dijadikan alternatif untuk yang ingin beramal dan sekaligus malas jalan kaki atau capek kalau harus jalan kaki. Gulmarg, sama seperti Sonamarg, juga merupakan hill station. Bedanya, Gulmarg terletak di dataran lebih tinggi dan bahkan gondola Gulmarg adalah gondola tertinggi ke-2 di dunia dengan ketinggian 3979 meter di atas permukaan laut. Dari stasiun, kami menaiki gondola (satu orang dikenai biaya tiket 740 Rupee untuk perjalanan bolak balik) menuju titik kedua yaitu Kongdoori di ketinggian 3080 meter di atas permukaan laut. Dari Kongdoori, pengunjung yang mendatangi Gulmarg untuk ski biasanya akan naik satu lagi gondola yang akan membawa ke titik kedua, Puncak Apharwat yang berada di ketinggian 4200 meter di atas permukaan laut. Karena tidak satupun dari kami main ski, kami hanya naik gondola sampai Kongdoori. Perjalanan menuju Kongdoori menggunakan Gondola menyuguhi saya dengan salah satu pemandangan terbaik yang pernah saya lihat seumur hidup saya. Tumpukan salju yang putih bersih dan terlihat sangat halus menyelimuti seluruh lembah dan di sisi-sisi lembah berjejer pohon-pohon cemara berumur ratusan tahun yang menjulang tinggi bagaikan penjaga puncak Kongdoori dan Apharwat. Di Kongdoori seperti biasa ada tukang foto keliling, karena harganya cukup murah, saya melarikan diri dari tugas foto-foto Mamak dan ngeloyor ke arah deretan warung yang berlatarkan pemandangan pegunungan Himalaya. At last, sedikit ketenangan di hari hari yang selalu ribut. Saya duduk di salah satu warung dan memesan kahwah susu, sup jamur, dan roti naan dengan mentega sambil melamun menatap pegunungan Himalaya, bertanya-tanya apakah benar para dewa yang saya kenal melalui komik Mahabharata oleh R.A. Kosasih bersemayam di sana?. Saya juga melamunkan dan berimajinasi tentang perjalanan terakhir Pandawa Lima ketika Yudhistira memutuskan untuk mendaki Mahameru (Mahameru di cerita pewayangan Jawa dan Himalaya di versi India) setelah Parikesit resmi dinobatkan jadi Raja Hastina. Entah kenapa, cerita Mahabharata dari masa kecil saya ini terus menerus muncul di kepala begitu melihat puncak puncak salju abadi Himalaya. Dari jauh, puncak Himalaya benar-benar terlihat seperti rumah para dewa dan saya bergembira diberi kesempatan oleh Tuhan untuk bisa melihat sedikit rumah para dewa ini.  Cukup lama saya duduk di sana bahkan sempat ngobrol-ngobrol dengan segerombolan turis Indonesia yang datang dengan guru yoga sekaligus tour guide mereka yang setali tiga uang selain jadi guide juga ingin pulang kampung ke India. Bisa dibilang ini adalah momen terbaik saya selama perjalanan ini karena ini adalah momen paling tenang yang bisa saya dapatkan diantara riuh tawar-menawar non stop selama berhari-hari.

 

IMG_2536 copy

Pegunungan Himalaya yang diselimuti salju abadi dari kejauhan bisa dilihat di sekeliling Gulmarg.

 

Pahalgam

Kashmir 6

Di luar biaya naik kuda sebesar 1200 Rupee, jangan lupa memberikan tips setidaknya 250 Rupee untuk pemandu kuda karena mereka akan menemanimu melalui tiga jam perjalanan berkuda pulang pergi dengan jalan kaki melalui rute yang ekstrem.

Pahalgam menjadi penutup dari perjalanan saya di Kashmir, sebuah penutup yang benar-benar pas karena memang sebelum akhir cerita harus ada klimaks yang kemudian ditutup dengan resolusi entah baik, buruk, atau tidak ada sama sekali. Pahalgam dikenal sebagai tempat berkuda dengan rute yang ‘menarik’ dan suguhan pemandangan alam Lembah Kashmir dari kejauhan. Biaya untuk naik kuda di Pahalgam sebesar 1200 Rupee (Rp 250,000), biaya yang sebenarnya sangat murah karena pemandu kuda dan si kuda harus melewati rute yang ‘menarik’ atau lebih tepatnya ekstrem. Ada pilihan rute lain yang tidak ekstrem tapi kalau ada kesempatan ke Pahalgam, cobalah rute yang ekstrem karena ini benar-benar pacuan adrenalin yang tidak ada duanya. Kuda kecil bernama Raj yang saya tunggangi ternyata kuda yang cukup bengal. Sekalipun jalan sempit dia tidak mau sabar mengantre dan malah berusaha mencari jalan lain yang bikin saya mencelos – mulai dari pinggiran jurang, batu terjal berselimut salju licin, sampai pinggiran jembatan yang di bawahnya ada sungai-sungai berbatu. Untungnya di perjalanan pulang saya akhirnya paham walaupun si bengal satu ini selalu cari jalan yang aneh-aneh, dia ternyata cukup lincah dan tidak sekalipun ketakutan saya akan jatuh ke jurang atau sungai terjadi (Puji syukur Tuhan masih mau saya hidup ternyata). Jadi, saya berusaha untuk lebih santai walaupun tetap kadang-kadang harus teriak manggil si pemandu ketika Raj membawa saya melewati jalan yang benar-benar mendekati kematian.

Klimaks dari cerita perjalanan saya bukanlah rute mematikan di Pahalgam, tapi di perjalanan menuju pulang ke Srinagar dari Pahalgam. Seperti biasa saya mengambil tempat duduk paling belakang dan pojok di bis supaya saya bisa bersandar ke kaca. Saya yang kelelahan pun tertidur cukup pulas ketika tiba-tiba saya terbangun karena ada dua suara hantaman yang sangat keras tepat di sisi kiri saya menyenderkan kepala. Saya terbangun dengan serpihan kaca memenuhi sekujur tubuh dan kaca bis di samping saya hancur berantakan hasil hantaman dua buah batu yang sepertinya bukan dilempar dengan tangan tapi menggunakan alat ketapel dari jarak jauh. Bis terus melaju kencang dan tidak berhenti sampai akhirnya bertemu sekerumunan orang. Ketika supir bis turun, rombongan di dalam pun baru sadar sepenuhnya apa yang terjadi dan kami menemukan satu batu sebesar kepalan tangan orang dewasa di dalam bis. Saya disuruh untuk tetap diam di tempat karena kalau saya bergerak sedikit saja serpihan kaca di tubuh saya akan tersebar ke mana-mana. Sebenarnya saya tidak terlalu panik, lebih ke kaget dan kesal karena saya harus terbangun dari tidur saat lagi pulas-pulasnya dan tidak bisa tidur dengan nyaman lagi karena kaca bis yang pecah membuat saya terpapar angin dingin dari luar. Ditambah, masih ada satu bongkahan kaca berukuran sedang yang belum jatuh dan pasti akan mengenai saya kalau bis menghantam jalanan dengan keras. Sebenarnya saya khawatir harus melihat darah dibandingkan mengkhawatirkan rasa sakit kalau terkena kaca karena saya lebih takut darah dibandingkan takut sakit… Saya akhirnya coba cek di Waze dan perjalanan di hotel masih 30 menit lagi, tapi karena memang terlalu ngantuk akhirnya sepanjang perjalanan saya memegang korden bis untuk menghalau angin dingin dari luar sekaligus menahan serpihan kecil kaca untuk masuk ke dalam bis. Begitu kaki menjejak daratan di seberang houseboat masih dipenuhi serpihan-serpihan kecil kaca dan beberapa pecahan kaca dalam mantel saya, saya cuma bisa bersyukur, lagi-lagi Tuhan masih mau saya hidup, semoga kesempatan kehidupan tidak pernah saya sia-siakan karena saya baru saja diingatkan bahwa kematian benar-benar berjarak sangat dekat, hanya sejengkal jari antara kepala saya yang bersandar di dinding besi bis dan pecahan kaca yang terhantam sebongkah batu.

Dan sampailah di ujung cerita dengan  sebuah resolusi di mana saya memutuskan bahwa akhir dari perjalanan saya selama tujuh hari di India ini ditutup dengan resolusi yang tidak baik dan tidak juga buruk. Saya sudah pasti tidak akan pernah mengunjungi India lagi, bukan karena Delhi dan Agra yang tidak terurus ataupun Kashmir yang meskipun indah namun juga memberikan saya pengalaman near-hospitalized or even death. Tapi memang saya percaya bahwa memang tidak semua tempat yang kamu kunjungi akan membuatmu jatuh cinta walaupun akan banyak jutaan orang lainnya jatuh cinta dengan tempat itu. Kebetulan, India bukan tipe saya dan walaupun negara ini sangat unik dan merupakan salah satu pusat peradaban dunia di masa lampau yang pernah melahirkan berbagai warisan sejarah yang sangat kaya, saya tidak bisa jatuh cinta. Sebagaimana pasti ada saja orang yang tidak jatuh cinta dengan New Zealand walaupun saya cinta mati dan memutuskan kalau New Zealand adalah manusia, dia harus jadi jodoh saya, pasti akan ada juga orang yang merasakan apa yang saya rasakan terhadap New Zealand kepada India. Pesona spiritual India yang digambarkan dalam kisah-kisah perjalanan tidak saya dapatkan sama sekali, negara ini terlalu berisik untuk jadi spiritual, atau mungkin saya mengunjungi tempat yang salah. Pun, di Taj Mahal tidak ada getaran kekaguman yang luar biasa dari saya dan festival Holi malah membuat saya jengah. Tapi tentunya, perjalanan ini tidak buruk-buruk amat karena saya jadi belajar untuk bersyukur dan berhenti memaki Jakarta untuk sejenak karena ternyata kamu keren juga ya Jakarta, setidaknya kalau di jalan protokol orang pasti akan ditilang kalau naik motor tidak pakai helm apalagi bonceng tiga dan semacet-macetnya kamu, tidak akan ada orang yang klakson membabi buta layaknya kesetanan. Di luar itu saya pun belajar juga bahwa ternyata saya memang tipe turis yang lebih suka liat pohon, gunung, sungai, daripada bangunan-bangunan megah dengan arsitektur yang katanya luar biasa. Selain itu, perjalanan ini jadi contoh pertama kesuksesan saya untuk travel light walaupun harus bawa baju tebal untuk udara dingin. Selama kurang lebih dua minggu (India dari tanggal 1 – 9 Maret 2018 ditambah perjalanan tambahan ke Penang dan Kuala Lumpur dari 10 – 15 Maret 2018), saya cuma bawa satu koper kecil dan satu ransel, kuncinya? laundry whenever you can, buy toiletries while you’re there, go easy on the shopping, remember you’re not going on a fashion photoshoot so don’t bring too many extra clothes plus no one really notice if you’ve been wearing the same outfits throughout your whole travel as long as you don’t smell. 

Dan terakhir,

”I’ll look back on this and smile because it was life and I decided to live it”

4 Comments

  1. Ridwan says:

    Kacau bukan main. Gw mah gabakalan dah ke negara yang lebih jelek dari Indonesia, sayang uang, waktu, tenaga. Pantes 100% film bollywood shootingnya di AS atau Inggris, bahkan Singapura.
    Tulisannya bagus rin, ditunggu tulisan-tulisan selanjutnya.

  2. Anonymous says:

    Halo Azarine, tulisannya menarik dan menghibur sekali. Boleh saya share di instagram, gak? 🙂

  3. timeismoney634727735 says:

    Catatan perjalanan yang bagus jangan lupa mampir ke blog saya

  4. Gapey Sandy says:

    Halan-halan eyuusssss, Mamak … T.O.P dah … heheheee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: